E-Book Gratis: Islam Agama yang Paling Benar!


Ada kecenderungan saat ini umat muslim sengaja dibuat bingung, dengan istilah-istilah yang dipopulerkan oleh media massa dan tokoh publik. Ada ungkapan pluralisme dan terus saja dibiasakan. Padahal hakikatnya pluralisme adalah sebuah ideologi. Pluralitas (perbedaan) merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, tetapi pluralisme telah memasuki wilayah ideologi yang menuntut orang untut mengakui dan mengikutinya. Padahal dalam beragama telah jelas batasannya, bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar.

i love Islam
(sumber: anekaremaja.com)

Ini hal fundamental yang tidak bisa ditawar. Kalau semua agama dianggap benar, mengapa masih mempertahankan Islam? Temukan pembahasan dalam e-book ini. Klik di sini:  Islam Agama yang Paling Benar.

Saya lupa sumber e-book ini, karena telah lama saya download.

Share
Labels:

Mendirikan Perpustakaan Masjid


Telah terbukti, bahwa Membaca tidak hanya sebagai proses mengeja huruf, kata, dan angka, melainkan proses kebudayaan. Kegiatan membaca memiliki kaitan yang sangat dekat dengan kebudayaan; misalnya, bahan bacaan atau tulisan. Tulisan sebuah komunitas menjadi penanda kebudayaan dari komunitas tersebut. Demikian pula dengan aspek lain dari membaca itu sendiri. Maka, membaca dengan sendirinya adalah kebudayaan atau, minimal, berkebudayaan.

Di dalam ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, kita dapat melihat dengan jelas, bahwa membaca memang proses kebudayaan, yaitu: QS. al-‘Alaq/96: 1. Ayat yang pertama kali turun ini tidak memerintahkan kita membaca “nama Tuhan”, melainkan membaca dengan “mendasarkan pada nama Tuhan”. Membaca mesti didasarkan pada kesadaran akan ketuhanan. Endingnya, diharapkan akan lahir kebudayaan yang Islami.

membaca bukan sekedar mengeja kata, melainkan bagaimana mengambil makna

Dengan demikian, urgensitas membaca menemukan titik labuhnya di sini. Selanjutnya, perlu adanya upaya-upaya serius agar membaca dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan, kebiasaan masyarakat, atau bahkan menjadi ruh dalam kehidupan mereka. Membaca perlu “diinstitusikan”. Dengan diinstitusikan, akan berlaku mekanisme dan aturan-aturan organisatoris yang, tentunya, mengarah pada peningkatan minat baca masyarakat.

Akan tetapi, kenyataan menunjukkan kepada kita bahwa tak sedikit dari masyarakat kita yang telah mengambil jarak dengan perpustakaan. Tradisi membaca di masyarakat kita makin luntur, terdegradasi. Dengan sendirinya, perpustakaan telah dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita. Alih-alih akan ada ketergantungan kepada buku, wong kepada perpustakaannya saja mereka justru tidak mendekat.

Fenomena ini mesti dipandang sebagai masalah serius dan perlu solusi guna mengatasinya. Kecuali, jika kita memang berharap pada runtuhnya kebudayaan bangsa kita?! Dengan memandangnya sebagai masalah serius, akan lahir kesadaran individu, kemudian kesadaran kolektif untuk urun rembug dalam mengeluarkan masyarakat kita dari “penyakit akut” ini.

Perpustakaan adalah perwujudan dari institusionalisasi membaca. Dengan perpustakaan, kita memiliki peluang yang lebih besar dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun, perpustakaan yang seperti apakah yang mampu mengdongkrak minat baca masyarakat? Tak lain dari perpustakaan yang representatif, perpustakaan yang menyejukkan, dan perpustakaan dengan pengelola yang ramah, kreatif, dan inovatif.

Sebenarnya, dalam soal peningkatan minat baca masyarakat, banyak strategi yang dapat dijalankan, seperti mengadakan perpustakaan keliling, pengentasan buta aksara bagi masyarakat, serta diselenggarakannya lomba-lomba yang berkaitan dengan membaca. Akan tetapi, tulisan ini mengambil stressing pada pengadaan dan peningkatan perpustakaan.

Kajian ini lebih dikrucutkan lagi pada gagasan dibangunnya “Perpustakaan Masjid”. Oleh karena perpustakaan memiliki nilai urgensitas yang tinggi, maka hal penting yang bisa dilakukan selanjutnya adalah tidak hanya “menghiasi” perpustakaan dan memolesnya dengan sejumlah aksesoris program dan inovasi-inovasi baru, melainkan juga dengan membuat embrio-embrio yang banyak guna lahirnya perpustakaan di banyak tempat.

Masjid, dalam kehidupan masyarakat muslim, punya daya magis yang luar biasa dan intensitas kunjungan mereka ke tempat ibadah ini sangat tinggi. Bahkan, fakta sejarah menorehkan, bahwa masjid itu multifungsi: tempat ibadah, musyawarah, silaturrahim, pusat dakwah, benteng pertahanan perang, dan juga sebagai lembaga pendidikan. Hemat penulis, “memanfaatkan” masjid sebagai pusat baca masyarakat, dapat dikategorikan memakmurkan masjid. Selain itu, minat baca masyarakat akan terdongkrak, dan akhirnya kita akan menemukan masyarakat kita sebagai masyarakat yang cerdas, menghargai ilmu pengetahuan, serta memiliki hati yang selalu “terikat” dengan masjid.

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa hal yang bisa dilakukan dalam rangka mendongkrak minat baca masyarakat kita adalah, salah satunya, dengan memperbanyak Perpustakaan. Dengan beberapa pertimbangan (sebagaima diurai dalam Pendahuluan karya ini), maka gagasan Perpustakaan Masjid memiliki nilai plus tersendiri, tidak sama dengan perpustakaan lain.

Perpustakaan Masjid diselenggarakan oleh Takmir Masjid yang dalam operasionalisasinya diserah-tugaskan kepada Pengurus Perpustakaan Masjid yang dibentuk takmir. Pengurus Perpustakaan dapat diambil dari unsur Remaja Masjid (Remas) atau pemuda desa di lingkungan masjid. Yang terpenting dari proses rekrutmen pengelola Perpustakaan Masjid adalah ia harus ramah dan memiliki rasa cinta pada membaca dan buku.

Selanjutnya, agar Perpustakaan Masjid dapat berjaya, maka berikut beberapa strategi-taktis yang dapat dilakukan:

1.      Perpustakaan diletakkan di serambi kanan atau kiri masjid. Posisi ini agar mudah terlihat dan diakses oleh jama’ah. Tuntutan administrasi jangan sampai membuat jama’ah (yang kemudian dijadikan anggota) mengalami kesulitan dalam mengakses bahan pustaka. Apalagi, jama’ah masjid tersebut dengan mudah dikenali karena memang dari daerah yang tidak jauh dari masjid dimaksud.

2.      Menerbitkan Buletin Jum’at. Buletin ini berisi tema yang beragam sesuai isu teraktual, baik internasional (seperti invasi ke Iraq, dll.), nasional (tentang penetapan 1 Muharram, dll.), atau juga lokal (adanya aliran sesat, dll.). Jika muncul kekhawatiran dengan adanya buletin ini jama’ah tidak akan mendengarkan khutbah, maka redaksi wajib menuliskan peringatan “Dilarang Dibaca Saat Khutbah”.

Redaksi Buletin Jum’at juga dapat menerbitkan edisi khusus menjelang bulan ramadlan (misal, berisi faidah shalat tarawih selama sebulan penuh), Hari Raya Idul Fitri (contoh tema: Ber-Idul bersama Nabi, dll.), dan pada hari-hari besar Islam.

3.      Berlangganan Koran. Koran dapat diletakkan di mading dekat parkir masjid atau di halaman masjid yang teduh. Pengurus Perpustakaan bisa mengambil kebijakan berlangganan koran hanya pada hari jum’at saja. Karena pada hari jum’at, anggota perpustakaan (semua jama’ah masjid) banyak yang datang.

4.       Perpustakaan, minimal, memiliki koleksi sebagai berikut:

a.       Khutbah Jum’at (edisi dua bahasa: Arab dan Indonesia)

b.      Buku-buku yang berisi tentang keutamaan-keutamaan Hari Jum’at, Shalat Jum’at, Shalat Jama’ah, Bulan Ramadlan, Puasa, I’tikaf di masjid, dan lain-lain yang berkaitan dengan ibadah, seperti Rahasia Lailatul Qadar.

c.       Rekaman khutbah jum’at khusus yang diterjemah atau ada penjelasan dalam Bahasa Indonesia. Rekaman ini dalam edisi MP3. Dengan edisi MP3, biayanya akan lebih murah dan lebih mudah di back up oleh jama’ah untuk koleksi pribadi.

d.      Mengoleksi buku-buku Sejarah Islam

e.      Juga buku biografi Nabi Muhammad; mulai Sejarah Hidup Muhammad (Mohammad Husein Haekal), sampai yang terbaru Muhammad: Rasul Zaman Kita (Thariq Ramadan).

5.       Memberikan penghargaan kepada anggota yang paling sering berkunjung ke perpustakaan; baik karena meminjam, membaca di tempat, atau memang sebatas “berkunjung”. Bisa juga memberikan penghargaan kepada donatur perpustakaan atau pemasok terbanyak bahan pustaka.

6.       Menyelenggarakan lomba atau kegiatan yang dapat mendongkrak minat baca anggota perpustakaan.

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa gagasan untuk mengadakan Perpustakaan Masjid memiliki banyak efek positif, di antaranya:

1.       Punya nilai ibadah karena termasuk memakmurkan masjid,

2.       Pengurus dan anggota akan memiliki hati yang selalu “terikat” dengan masjid,

3.       Minat baca masyarakat terdongkrak,

4.       Lahirnya masyarakat yang cerdas, dan

5.       Masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

Sejumlah strategi-taktis ini dapat disempurnakan atau ditambah dengan mempertimbankan tuntutan, situasi, dan masukan dari pihak-pihak yang memiliki perhatian pada masjid dan ilmu pengetahuan.

KESIMPULAN DAN SARAN

*Kesimpulan

Problem mendasar dari rendahnya minat baca masyarakat kita?
a.    Minimnya perpustakaan yang representatif,

b.    Sikap pengelola perpustakaan yang kurang ramah,

c.    Rendahnya daya beli masyarakat, dan

d.    Semakin menjamurnya budaya menonton TV.

Adapun strategi-taktis membangun Perpustakaan Masjid yang representatif dan bisa menjadi sebagai sumber belajar masyarakat adalah:
a.    Meletakkan Perpustakaan di serambi kanan atau kiri masjid.

b.    Menerbitkan Buletin Jum’at. Redaksi Buletin Jum’at juga dapat menerbitkan edisi khusus.

c.    Berlangganan Koran.

d.    Punya koleksi:

1) Khutbah Jum’at

2) Buku-buku Fadhail (keutamaan-keutamaan)

3) Rekaman khutbah jum’at dalam edisi MP3.

4) Mengoleksi buku-buku Sejarah Islam

5) Buku biografi Nabi Muhammad.

e.    Memberikan penghargaan kepada yang berjasa.

f.      Menyelenggarakan lomba atau kegiatan yang dapat mendongkran minat baca.

Efek positif yang akan muncul dari gagasan dibangunnya Perpustakaan Masjid adalah:
a.    Memakmurkan masjid,

b.    Pengurus dan anggota akan memiliki hati yang selalu “terikat” dengan masjid,

c.    Minat baca masyarakat terdongkrak,

d.    Lahirnya masyarakat yang cerdas, dan

e.    Masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

SARAN

1.   Minat baca anak didik dan masyarakat mesti terus didorong, salah satunya dengan memperbanyak perpustakaan.

2.       Takmir Masjid perlu mempertimbangkan gagasan perlunya dibangun Perpustakaan Masjid.

3.       Bagi masjid yang sudah memiliki perpustakaan, maka sejumlah strategi-taktis di atas dapat dipertimbangkan dan dilakusanakan.

Sumber: http://www.pemustaka.com/menggagas-perpustakaan-masjid.html

Share
Labels:

Asma Nadia: Jangan Pernah Buang Tulisan yang Keliru


Bagi penulis wajib untuk terus mengasah kemampuan dalam merangkai kata dalam kalimat di sebuah media kertas. Tanpa diasah, kemampuan yang dimiliki penulis ibarat pisau tumpul.

berkarya butuh energi agar mampu bertahan

Penulis novel, Asma Nadia mengatakan penting bagi penulis pemula dan penulis profesional untuk terus mengasah kemampuannya. Sebab, ada hasil yang tercipta tanpa disadari.

"Sebagai contoh saja, mas Gege (pemenang Lomba Novel Republika 2011), pernah menulis sebuah buku, tapi untuk karya terbarunya ini kualitasnya meningkat pesat," kata dia saat menghadiri Penganugerahan dan Temu Penulis Pemenang Lomba Novel Republika 2011 di Jakarta, Kamis (12/4).

Karena itu, kata Asma, kunci dari hal ini adalah kemampuan untuk terus menulis, membaca dan jangan pernah membuang tulisan yang keliru. Sebab, melalui tulisan yang tidak sempurna akan terbangun jembatan penyempurnaan saat menulis berikutnya.

"Saya selalu membaca novel baik saat menjadi juri atau mencari novel yang direkomendasikan. Inilah yang sering saya lakukan," pungkasnya.

Sumber berita dan gambar: republika.co.id

Share
Labels:

Prof. Abdus Salam, Fisikawan Muslim Peraih Nobel


Kali ini saya akan berbagi pengetahuan tentang sosok yang saya kagumi. Ilmuwan muslim yang bukan hanya ahli fisika, tetapi juga ahli agama dan luas pergaulannya dalam dunia Islam. Jika Anda berkunjung ke TMII di Museum IPTEK maka Anda akan menemukan fotonya di dinding dekat pintu masuk. Ya, sosok yang saya maksud itu adalah Prof. Abdus Salam, untuk mengenalnya saya kopikan artikel dari salah satu blog. Ini dia.

Profil Prof. Abdus Salam terpampang di TMII 
(foto koleksi pribadi)

Prof. Abdus Salam dilahirkan pada tanggal 29 Januari 1926 di Jhang, sebuah kota kecil di Pakistan, pada tahun 1926. Ia merupakan fisikawan muslim terbaik abad 21. Ayahnya ialah pegawai dalam Dinas Pendidikan dalam daerah pertanian. Kelurga Abdus Salam mempunyai tradisi pembelajaran dan alim. Hanya sayangnya, ia memasuki Jamaah Muslim Ahmadiyyah dari Qadian, yang mempercayai kedatangan kedua dari Almasih, Nabi Isa yang kedua kalinya yang dijanjikan, Imam Mahdi, begitu juga sebagai Mujaddid pada abad ke 14 H dalam Kalender Islam dalam wujud Mirza Ghulam Ahmad, sehingga aliran ini dianggap sebagai minoritas non-Muslim di Pakistan. Akibatnya, sampai saat meninggalnya pada 1996, ia tidak pernah diberi penghargaan resmi oleh pemerintah Pakistan.

Dalam usia sangat muda (22 tahun) Salam meraih doktor fisika teori dengan predikat summa cumlaude di University of Cambridge, sekaligus meraih Profesor fisika di Universitas Punjab, Lahore. Khusus untuk pelajaran matematika ia bahkan meraih nilai rata-rata 10 di St.John’s College, Cambridge. Salam adalah satu dari empat muslim yang pernah meraih Hadiah Nobel. Tiga lainnya adalah Presiden Mesir Anwar Sadat (Nobel Perdamaian 1978), Naguib Mahfoud (Nobel Sastra 1988), Presiden Palestina Yasser Arafat (bersama dua rekannya dari Israel, Nobel Perdamaian 1995).

Penerima gelar Doktor Sains Honoris Causa dari 39 universitas/lembaga ilmiah dari seluruh dunia ini, yang sekali waktu pernah menyebut dirinya sebagai penerus ilmuwan muslim seribu tahun yang silam, telah menyatakan dengan tegas: harga diri suatu umat kini tergantung pada penciptaan prestasi ilmiah dan teknologis.Harga diri itu, seperti yang telah dibuktikan oleh Salam sendiri bukan saja dapat mengangkat suatu masyarakat sejajar dengan masyarakat lain. Gerakan dan keikutsertaan mencipta sains teknologi akan memberikan kontribusi pada peningkatan harkat seluruh umat manusia, tanpa melihat agama dan asal-usul kebangsaannya. Itulah rahmatan lil alaamin.

Abdus Salam adalah fisikawan muslim yang paling menonjol abad ini. Dia termasuk orang pertama yang mengubah pandangan parsialisme para fisikawan dalam melihat kelima gaya dasar yang berperan di alam ini. Yaitu, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, gaya kuat yang menahan proton dan neutron tetap berdekatan dalam inti, serta gaya lemah yang antara lain bertanggung jawab terhadap lambatnya reaksi peluruhan inti radioaktif. Selama berabad-abad kelima gaya itu dipahami secara terpisah menurut kerangka dalil dan postulatnya yang berbeda-beda.

Adanya kesatuan dalam interaksi gaya-gaya dirumuskan oleh trio Abdus Salam-Sheldon Lee Glashow-Steven Weinberg dalam teori “Unifying the Forces”. Menurut teori yang diumumkan 1967 itu, arus lemah dalam inti atom diageni oleh tiga partikel yang masing-masing memancarkan arus atau gaya kuat. Dua belas tahun kemudian hukum itulah yang melahirkan Nobel Fisika 1979.

Eksistensi tiga partikel itu telah dibuktikan secara eksperimen tahun 1983 oleh tim riset yang dipimpin Carlo Rubia direktur CERN (Cetre Europeen de Recherche Nucleaire) di Jenewa, Swiss. Ternyata, rintisan Salam itu kemudian mengilhami para fisikawan lain ketika mengembangkan teori-teori kosmologi mutakhir seperti Grand Theory (GT) yang dicanangkan ilmuwan AS dan Theory of Everything-nya Stephen Hawking. Melalui dua teori itulah, para fisikawan dan kosmolog dunia kini berambisi untuk menjelaskan rahasia penciptaan alam semesta dalam satu teori tunggal yang utuh. Karena kecerdasannya yang luar biasa, Salam pernah dipanggil pulang oleh Pemerintah Pakistan. Selama sebelas tahun sejak 1963 dia menjadi penasihat Presiden Pakistan Ayub Khan khusus untuk menangani pengembangan iptek di negaranya. Ia mengundurkan diri dari posisinya di pemerintah ketika Zulfiqar Ali Bhutto naik menjadi PM Pakistan. Profesor Salaam tak bisa menerima perlakuan Ali Bhutto yang mengeluarkan Undang-Undang minoritas non Muslim terhadap Jemaat Ahmadiyah- komunitas Islam tempat dirinya lahir dan dibesarkan.

Tak ada dendam yang sanggup melahirkan perasaan Permusuhan Salam pada Negerinya Pakistan. Ia memilih pergi dengan damai untuk menyebarkan Ilmu Pengetahuan bagi Dunia dan seluruh Umat Manusia. Itu dibuktikannya dengan sebagian besar usianya dihabiskan sebagai guru besar fisika di Imperial College of Science and Technology, London, dari 1957-1993. Sejak 1964 ia menjadi peneliti senior di International Centre for Theoretical Physics (ICTP) di Trieste, Italia, sekaligus menjadi direkturnya selama 30 tahun.

Hingga akhir hayatnya, putra terbaik Pakistan itu mendapat tak kurang dari 39 gelar doktor honoris causa. Antara lain dari Universitas Edinburgh (1971), Universitas Trieste (1979), Universitas Islamabad (1979), dan universitas bergengsi di Peru, India, Polandia, Yordania, Venezuela, Turki, Filipina, Cina, Swedia, Belgia dan Rusia. Ia juga menjadi anggota dan anggota kehormatan Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional 35 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.

Abdus Salam tergolong duta Islam yang baik. Sebagai contoh, dalam pidato penganugerahan Nobel Fisika di Karolinska Institute, Swedia, Abdus Salam mengawalinya dengan ucapan basmalah. Di situ ia mengaku bahwa riset itu didasari oleh keyakinan terhadap kalimah tauhid. “Saya berharap Unifying the Forces dapat memberi landasan ilmiah terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa,” kata penulis 250 makalah ilmiah fisika partikel itu.

Prof.Abdus Salam, wafat Kamis 21 Nov 1996 di Oxford, Inggris, dalam usia 70 tahun dan meninggalkan seorang istri serta enam anak (dua laki-laki dan empat perempuan). Salam sudah berangkat menuju Yang Maha Esa di usia 70 tahun. Ia dimakamkan di tanah air yang teramat sangat dicintainya,dikota Rabwah- Pakistan. Kita yang ditinggalkannya kini hanya dapat bertanya, benarkah kita juga punya rasa harga diri religius, seperti rasa harga diri yang menggerakkan tokoh yang teramat dihormati oleh komunitas sains internasional ini? Yang pasti, penerima gelar Doktor Sains Honoris Causa dari 39 universitas/lembaga ilmiah dari seluruh dunia ini, yang sekali waktu pernah menyebut dirinya sebagai penerus ilmuwan muslim seribu tahun yang silam, telah menyatakan dengan tegas: harga diri suatu umat kini tergantung pada penciptaan prestasi ilmiah dan teknologis.


Share
Labels:

Ebook Gratis: Halal-Haram Bank


Ebook atau lebih tepatnya file pdf ini merupakan sebagian dari artikel yang dimuat di majalah Pengusaha Muslim, yang membahas masalah khusus halal-haram bank. Sebagai preview artikel yang disajikan di sini sudah cukup untuk mendapatkan beberapa informasi berharga tentang halal-haram di bank. Untuk mendapatkannya silakan klik di sini: Halal-Haram di Bank.

Share
Labels:

Minat Baca Anak Indonesia Memprihatinkan


Saat ini, minat baca anak Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Berdasarkan studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian.

Saat ini bahan pustaka berupa buku banyak tersedia dengan harga terjangkau

''Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan,'' ujar Ketua Center for Social Marketing (CSM), Yanti Sugarda di Jakarta, Rabu (7/7).

Sementara itu, berdasarkan penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009.

''Data-data tersebut tampaknya akan terus memburuk mengingat minimnya infrastruktur dan perhatian yang ada saat ini, seperti terbatasnya jumlah bacaan yang tersedia dan jumlah guru,'' tutur Yanti.

Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.

Oleh karena itu, sebagai regulator, Yanti mengatakan pemerintah berkewajiban dalam mengevaluasi kondisi yang ada. Kalau ingin mengembangkan minat baca anak, lanjut dia, isi bacaan, motivasi, fasilitas, dan kebiasaan membaca harus diperhatikan karena menyangkut pembaca itu sendiri.

Ada solusi untuk meningkatkan minat baca, kata Yanti, yakni dengan mengeksplorasi local content, yang mengandung keragaman budaya, bahasa, musik, alat permainan, hingga dongeng. Menurutnya, banyak kearifan lokal yang bisa digali dari local content yang sudah hampir hilang.

Sementara itu, Ketua KPAI, Setia Dharma Madjid, mengungkapkan, pemerintah perlu dibantu dengan melakukan gerakan terpadu menuju terwujudnya masyarakat yang gemar membaca. ''Sudah saatnya kita kembalikan karakter bangsa yang positif melalui buku-buku bacaan yang kita hadirkan kepada anak-anak penerus bangsa,'' tegasnya.

Sumber: republika.co.id

Share
Labels:

Koleksi baru: Berburu Buku di Swalayan


Siang tadi, (13/5/2012) sembari berbelanja, saya bermaksud mampir ke shoping center Yogyakarta, tempat yang seru untuk berburu buku. Tapi cuaca yang mendung berubah menjadi hujan, saya pun menunggu hingga hujan reda. Tanpa saya duga, di swalayan itu terpampang tulisan bazar dan buku murah yang membuat saya penasaran dan langsung menuju TKP.

Hasilnya? Lima buah buku, dengan total harga 58 ribu, untuk tambahan koleksi pustaka rumah dunia:
1. Mengenal Buah-buahan (Seri Aku Cerdas)


2. Smart Games for Smart Baby.



3. Sains untuk Kesempurnaan Ibadah


4. Panduan ngeblog Lewat Blogger


5. Dahsyatnya Asma’ul Husna




Terima kasih juga kepada para donatur yang telah ikut mendukung perkembangan pustaka rumah dunia.

Share
Labels:

Ebook Gratis: Kumpulan Dongeng untuk Anak


gambar ilustrasi

Bagi Anda yang senang mengoleksi dongeng, ebook ini saya rasa sangat cocok, apalagi tampilan dan bahasanya yang menarik. Selain tiu juga dilengkapi dengan intisari hikmah. Saya lupa dari mana sumbernya, tapi tersedia di internet dan gratis. Untuk mengunduhnya bisa klik di sini. Kumpulan Dongeng Cerita Anak

Share
Labels:

Ebsoft, Gudang Pengetahuan Komputer dan Aplikasi Islami


Bagi Anda yang butuh software islami dan pengetahuan komputer lainnya, ada baiknya Anda berkunjung ke web blog ini: www [dot] ebsoft [dot] com. Banyak pengetahuan baru yang bisa Anda dapatkan di sini, termasuk beberapa software dan aplikasi gratis.

Untuk lebih mengenalnya, saya kutipkan wawancara wartawan majalah hidayatullah dengan pendiri blog yakni Ebta Setiawan.

Kenal Ebta Setiawan? Bagi Anda yang rajin menjelajah di internet mencari informasi seputar software dan download aplikasi Islami, nama ini tentu saja tidak terlalu asing.

Ya, Ebta Setiawan adalah pendiri sekaligus pengelola laman weblog ebsoft.web.id. Kehadiran Ebsoft bisa dikata adalah fenomena yang luar biasa. Ketika bertandang ke laman ini, pengalaman berselancar internet kita pun rasanya terpuaskan, utamanya dengan adanya postingan-postingannya dan tips trik yang sarat dengan ilmu pengetahuan.

Bahkan baru-baru ini, Ebsoft merilis Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Offline yang merupakan software rilis terbaru saat ini yang terlengkap dari freeware sejenis yang pernah ada.   

Pria kelahiran Yogyakarta lulusan Electrical Engineering Universitas Gadjah Mada ini juga telah menciptakan sejumlah aplikasi Islami yang telah diunduh jutaan pengguna di internet. Selain aplikasi Islami, ia juga kerap berbagi “bonus” untuk pengunjungnya, baik berupa link download dengan serial number gratis dan lain lain.

Membuat aplikasi tentu adalah pekerjaan berat dan butuh waktu yang tidak sebentar. Tapi pria yang  juga berpengalaman utak atik berbagai disiplin ilmu seperti Delphi, Pascal, dan PHP, ini mengaku tidak rugi. 

“Insya Allah tidak rugi, apalagi berbagai sumber untuk membuat software itu sebagian besar saya dapatkan gratis dari internet juga, dan saya hanya mengolahnya menjadi software lain yang lebih bermanfaat,” katanya.

Ebsoft memang bukan halaman blog sembarangan. Ia memiliki ranking global di Alexa (program pemeringkat web) ke 63,181 dan untuk di Indonesia sendiri berada di posisi popularitas ke-868 dari jutaan situs di Indonesia.

Bagaimana pengalaman blogging pria yang penghasilannya dari internet lebih dari cukup ini? Apa pula motivasinya bersusah-susah membuat software untuk dibagi-bagikan gratis tersebut? Inilah petikan wawancara Hidayatullah.com dengan Ebta Setiawan. Selamat mengikuti:  

Apa saja kesibukannya saat ini selain blogging?

Selain blogging mengurusi ebsoft.web.id dan beberapa web/blog lainnya, saat ini saya menjadi salah satu tenaga outsourcing di pemerintah kabupaten Sleman, Yogyakarta di Departemen Hubkominfo. Kemudian disamping itu, terkadang ada proyek pembuatan software, website ataupun design, baik dari personal maupun instansi. Juga membantu istri saya jualan online dan tentu membantu mendidik dan mengurus anak pertama saya yang baru berumur 11 bulan.

Bagaimana cerita dan pengalaman pertama kali ngeblog?

Awalnya saya belum tahu sama sekali bagaimana membuat web dan bahkan belum mengenal istilah blog. Pertama kali membuat web gratis di geocities.com untuk menuliskan dan menyediakan link download beberapa software gratis yang pernah saya buat, dengan web statis saja.

Tetapi karena bandwidth yang dibatasi, ketika orang yang mengunduh software saya semakin banyak, web geocities ini semakin sering tidak bisa diakses. Selanjutnya sekitar awal tahun 2007 ada seorang teman di Jakarta yang menawarkan untuk memberikan dan membuatkan web gratis, karena ketika itu saya juga belum mengenal blogging. Sebelumnya sebenarnya juga ada, tetapi saya belum mengiyakan, karena saya masih awam dan belum tahu membuat dan mengelolanya.

Awalnya saya ingin menamakan web saya dengan shollu.web.id, nama software saya yang paling banyak tersebar ketika itu. Tetapi ternyata nama domain ini sudah di pesan orang lain, yang belakangan kemudian saya baru tahu bahwa sebenarnya domain ini akan diberikan ke saya untuk software shollu.

Akhirnya saya menggunakan nama ebsoft.web.id, diambil dari nama EBta dan SOFTware. Ketika itu menggunakan wordpress dan pemasangan dan pengaturannya masih dilakukan sepenuhnya oleh teman saya.

Mulai dari ebsoft ini saya mulai menulis berbagai hal terutama pengalaman tentang komputer baik software maupun hardware.

Alhamdulillah mendapat tanggapan yang sangat baik dari pengunjung. Setelah kurang lebih satu setengah tahun, pengunjung ebsoft semakin banyak, dan tentu ini cukup memberatkan, khususnya kinerja server pada hosting teman saya, sehingga sekitar bulan Oktober 2008 saya direkomendasikan untuk membeli hosting sendiri.

Setelah mempunyai cukup biaya dan tidak ingin merepotkan teman saya yang sudah memberikan tempat lebih dari setengah tahun secara gratis, akhirnya saya memutuskan untuk membeli hosting sendiri. Selanjutnya dari sana mulai belajar mengelola dan mengembangkan webblog sendiri.


tampilan laman  ebtasoft.web.id

Apa motivasi Anda?

Pada awalnya, saya ingin menyebarluaskan beberapa software buatan saya, terutama program pengingat sholat, Shollu, karena sebelumnya saya hanya mengenal penyebaran melalui email, sehingga ketika pengguna software saya semakin banyak, saya tidak mampu lagi mengirim dan memberikan update (informasi tebaru) melalui email dan mencari alternatif yang lebih mudah.

Selanjutnya selain menyebarkan software, saya juga ingin berbagi pengalaman, menulis tips dan trik mengenai komputer dan software, karena dulu saya sering utak-atik komputer baik hardware maupun software, termasuk juga pernah membuka jasa service komputer.

Tak jarang Anda membagi-bagikan freeware/software gratis kepada pembaca yang jika dikalkulasi bisa sangat mahal kalau mau dikomersialkan, seperti KBBI Offline, apakah Anda tidak rugi?

Insya Allah tidak rugi, apalagi berbagai sumber untuk membuat software itu sebagian besar saya dapatkan gratis dari internet juga, dan saya hanya mengolahnya menjadi software lain yang lebih bermanfaat.

Selain itu, membuat software yang sederhana, memudahkan dan mempunyai kelebihan dibanding software yang sudah ada, apalagi bisa bermanfaat bagi banyak orang, menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi saya.

Dan saya juga yakin, ketika kita membantu orang lain memberikan manfaat, kita juga akan mendapatkan keuntungan, baik langsung ataupun tidak langsung dari arah yang tidak kita sangka.

Anda juga banyak membuat aplikasi Islami yang bermanfaat, apa latar belakangnya?

Termasuk salah satu azzam saya adalah dapat memberikan manfaat dengan ilmu yang saya miliki. Dengan sedikit ilmu yang saya miliki untuk membuat software/program komputer, maka saya juga ingin memanfaatkan ilmu saya itu, salah satunya dengan membuat aplikasi islami.

Bagi-bagi ilmu ngeblognya dong, biar kita para blogger pemula lebih semangat bisa berkarya seperti Anda?

Wah, ilmu ngeblog ya... Ngeblog sepertinya tidak memerlukan banyak ilmu, ketika kita ngeblog sesuai dengan hal yang kita senangi, insya Allah ngeblog itu mudah. Yang penting berikan sesuatu yang bermanfaat, jalin komunikasi yang baik dengan pengunjung.

Selanjutnya untuk teknisnya supaya blog ramai dan tampil bagus di search engine, bisa bergabung di forum ebsoft, jika ada sesuatu yang ditanyakan insya Allah bisa di diskusikan lebih mendalam di sana.

Ngomong-ngomong, sudah berapa penghasilannya dari blogging?

Hmm... penghasilan ya.. Alhamdulillah yang jelas dari aktivitas blogging, sampai saat ini ada penghasilan yang lumayan, bisa menutup biaya hosting semua website yang dimiliki termasuk biaya internet bulanan, termasuk juga untuk menambah berbagai kebutuhan lainnya.*

sumber: hidayatullah.com

Share
Labels:

Membangun Tradisi Membaca Muslim Indonesia


Repotnya Budaya Konsumtif

Terkadang penulis merasa heran melihat umat Islam di Indonesia. Tingkat konsumsinya sangat tinggi dapat dibuktikan dari menjamurnya wisata kuliner dan swalayan. Usaha yang tak pernah sepi diserbu pengunjung sehingga banyak pengusaha menanggung untung. Memang diakui itu sebagai sebuah kebutuhan pokok. Tapi dalam perkembangannya wisata kuliner dan kunjungan ke mall (pasar swalayan) menjadi tren kehidupan masyarakat. Kondisi ini semakin langgeng dengan dukungan pemerintah (baik pemerintah pusat dan daerah).

Adanya budaya konsumtif tentu mendorong terjadinya kecepatan perputaran uang. Di sebuah perkotaan, ekonomi berkembang pesat. Dalam sehari miliaran rupiah berpindah tangan, mendukung terciptanya dominasi kapitalisme global. Berbagai produk legislasi tidak berusaha mencegahnya, sebab ada kepentingan terusik jika arus ini dihentikan. Jadilah Indonesia negara konsumtif, tempat penjualan barang luar negeri. Barang impor sangat laris manis dan laku keras diperjual – belikan. Gejala penjajahan gaya baru yang sangat sulit untuk dihentikan.

Di tengah mengguritanya kapitalisme akibat perilaku konsumtif. Pemerintah sibuk berhutang demi kelancaran pembangunan infrastruktur bangsa. Pada tahun 2008, Indonesia berhutang Rp 1.397, 610 triliun (155,29 milyar dolar AS). Angka itu terdiri atas pinjaman yang diperoleh dengan perjanjian utang senilai Rp 64,34 milyar dolar AS dan penerbitan obligasi negara Rp 90,95 miliar dolar AS. Fakta yang mengusik keprihatinan anak bangsa atas keberlangsungan Indonesia di masa mendatang. Bagaimanapun kewajiban membayar hutang,menghantui setiap bayi yang baru lahir.

Tidak heran, bangsa yang besar ini terus mengalami keterpurukan. Sebab tingkat konsumsinya selalu tinggi, sedangkan produktivitas rendah. Serbuan barang China dan AS misalnya, sangat mudah masuk ke blantika perdagangan tanah air. Dalam kehidupan sehari – hari sudah tak terhitung berapa anak bangsa yang memiliki Black berry, kebanjiran produk China dan malu memakai produk Indonesia. Jadilah Indonesia sebagai bangsa besar yang diperbudak asing di negeri sendiri. Tidak cukup itu, belakangan kita makin miris mendengar negeri yang memiliki lautan luas ini “dipaksa mengimpor” garam.

Melawan Dengan Membaca

Di tengah kekacauan dan hantu perekonomian yang memburuk, Indonesia dibenturkan masalah rendahnya sumber daya manusia (SDM). Bidang pendidikan mengalami kelunturan internalisasi nilai dan pengetahuan. Proses pengembangan IPTEK berjalan lambat sebagai akibat maraknya westernisasi dan lemahnya budaya membaca dan menulis. Buku sebagai sahabat memperluas cakrawala pengetahuan semakin terpinggirkan.

Sesungguhnya menilai perbaikan ekonomi, tak bisa dilepaskan dari perbaikan pendidikan. Makin rendah kesadaran mendapatkan pendidikan, perekonomian suatu bangsa mendekati kehancuran. Tak heran kemiskinan di Indonesia makin marak. Sebab masyarakat Indonesia pada umumnya dominan berpendidikan rendah. Kondisi yang dimulai dari banyaknya buta huruf dan kebiasaan negatif malas membaca.

Realitas lapangan menyebutkan, pemberdayaan masyarakat dimulai dengan tumbuhnya kesadaran membaca. Berbagai penelitan menunjukkan, minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Sekalipun ada lebih berorientasi pada bacaan ringan dan menghibur. Tak heran peredaran majalah hiburan, komik, teenlit lebih menjual dan laku keras. Berbanding terbalik dengan buku pengetahuan umum, media cetak dan jurnal ilmiah yang kurang laku di pasaran.

Repotnya kesadaran membaca belum banyak mendapatkan keteladanan. Indonesia yang banyak dikuasai umat Islam seperti kehilangan ulama hebat. Umat dilupakan bagaimana Islam pernah berjaya ketika dunia pengetahuan terbuka luas. Sebuah zaman dimana Eropa tercerahkan sosok Ibnu Chaldun, penulis dan sosiolog kebanggaan Islam yang mampu menelurkan karya fenomenal Mukadimmah. Jangan lupakan bagaimana Ibnu Rusyd, seorang filosof sekaligus dokter muslim yang berhasil menulis al-Kulliyat. Sebuah karya penting yang berisi kajian ilmiah pertama kali mengenai tugas jaringan dalam kelopak mata.

Agaknya umat Islam Indonesia harus kembali menemukan catatan emas sejarah para ulama. Sebab mereka mewariskan kebiasaan “Qur’ani” yaitu membaca. Sebuah kebiasaan sebagai manifestasi firman Allah ketika menurunkan Surat Al – Alaq. Tentunya kita tahu, bagaimana Allah memerintahkan Muhammad untuk membaca. Sebab dari perkataan “iqra”, timbul kesadaran dan tanggung jawab mencerdaskan dirinya dan orang lain. Seorang muslim yang tinggi intensitas membacanya akan diakui kapasitas keilmuannya. Sehingga dirinya mampu memberikan pencerahan atas persoalan yang dihadapi masyarakatnya.

Banyak manfaat membaca selain meneruskan tradisi ulama seperti meninggikan izzah kaum muslimin. Allah sudah menegaskan tidak akan merubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu merubah nasibnya sendiri. Ketertinggalan pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya umat Islam dari kaum Barat (mayoritas Nasrani dan Yahudi) adalah lemahnya kebiasaan membaca. Sudah sepantasnya itu harus dikejar sehingga masa keemasan dan kejayaan peradaban Islam kembali terulang seperti zaman Daulah Abbasiyah.

Kesadaran akan arti penting membaca harus ditanamkan sejak dini

Beternak Buku

Perubahan paradigma memainkan peran strategis menyuburkan budaya baca. Misalnya Ketika berkunjung ke pusat perbelanjaan, biasakan menyisihkan uang membeli buku. Tanamkan dalam hati dan pikiran, buku sebagai investasi pengetahuan yang tidak habis direguk. Selain itu, suburkan paradigma “beternak buku” yaitu buku sebagai teman terindah dalam setiap kegiatan kita. Ketika itu berhasil dijalankan, selalu ada rasa kehilangan jika sehari tidak membaca buku.

Motivasi terbaik tentu datang dari motivasi pribadi untuk merasakan pentingnya membaca. Pengaruh eksternal sendiri berfungsi mendorong minat membaca. Ada baiknya Indonesia belajar dari Jepang, ketika mengalami kekalahan pasca Perang Dunia. Mereka mendorong masyarakatnya membaca dengan menyediakan banyak buku. Berbagai macam literatur asing tak segan diterjemahkan, sehingga terbuka lebar dunia pengetahuan.

Tidak ada salahnya kita mengingat kembali nasehat 3M dari Aa Gym. Mulai dari diri sendiri untuk membiasakan banyak membaca. Mulai dari yang paling kecil yaitu mengajak anggota keluarga kemudian masyarakat untuk semangat membaca. Jadikan pribadi kita sebagai teladan bagi penyebaran semangat membaca di masyarakat sekitar. Mulai saat ini juga tanpa harus menunggu waktu lagi, langsung anda ambil buku dan membaca.

Akhirnya kita pantas berharap pertumbuhan minat baca yang tinggi akan terjadi. Dengan membiasakan membaca, pengetahuan meningkat dan ketertinggalan perekonomian dari bangsa lain dapat dikejar. Tak ketinggalan kualitas SDM meningkat dan pendidikan semakin menempati posisi strategis bagi pengembangan manusia Indonesia yang unggul, maju dan berkualitas. Proses pengentasan buta aksara juga tertuntaskan sehingga manusia Indonesia mengalami melek aksara.

Selamat Membaca!

Sumber: eramuslim.com

Share
Labels:

Koleksi Pustaka Baru: Mei 2012


Tanggal 3 Mei yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi pameran pembangunan dan potensi daerah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Pameran ini rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang hari jadi Kabupaten Sleman. Pameran diselenggarakan di Komplek Pemkab dan diikuti oleh instansi-instansi yang ada di Pemkab, Perwakilan dari 17 Kecamatan yang ada di Sleman, Sekolah-sekolah, dan pihak swasta.

Setelah beberapa lama berjalan, di antara deretan stand, ternyata ada yang menjual buku-buku dengan harga murah. Langsung saja saya tertarik dan memilih-milih buku untuk oleh-oleh. Di antara buku yang saya beli dengan harga sepuluh ribuan yakni:

1. Google is My Office

2. Handbook Internet Marketer

3. Panduan Praktis Menggambar dan Mewarnai untuk Anak


 Tiga buku koleksi pustaka baru

Belajar dan bermain di Pustaka Rumah Dunia

Alhamdulillah, harga boleh murah tapi mudah-mudahan ilmunya tetap bermanfaat. Bagi yang berminat meminjam, silakan berkunjung ke Pustaka Rumah Dunia.

Share
Labels:

‘Guru Edan’ yang Mengagumkan: Juli Eko Sarwono


Raut ceria selalu tampak pada wajah Juli Eko Sarwono (49), guru matematika SMP Negeri 19 Kabupaten Purworejo. Dengan sabar, ia berpindah dari meja kelompok satu ke kelompok lainnya. Sembari melempar dadu terbuat dari kertas, ia dengan sabar meminta muridnya melakukan uji statistik peluang munculnya angka. Dimeja lain, ia meminta murid perempuannya mempresentasikan rumus volume kerucut dengan caping kertas bekas sebagai modelnya.

Biasanya, pelajaran matematika merupakan momok bagi pelajar. Hingga sekarang, mungkin masih ada sebagian pelajar yang masih merasa dipusingkan dengan angka dan rumus. Bergelut dengan kalkulator hingga sempoa, serta menghitung berbagai fungsi dan persamaan.

Namun tidak bagi kelas yang diampu Juli Eko Sarwono. Wajah riang, penuh semangat dan serasa tanpa beban tampak pada raut murid-muridnya. "Saya mencoba membuat matematika menjadi menyenangkan, jika murid sudah suka, transfer ilmu akan mudah," ujarnya kepada KRjogja.com, sekolahnya, Selasa (31/1).

Juli Eko Sarwono ketika dalam salah satu acara televisi

Model yang digunakan Juli sebenarnya sederhana. Ia mencoba merubah paradigma pelajaran matematika yang tidak lepas dari angka dengan memasukkan alat peraga. "Saya menyebut cara ini metode kontekstual, apa adanya," paparnya. Lanjutnya, metode tersebut terbilang jitu untuk diterapkan pada anak usia SMP. Lanjutnya, pelajar mampu mengimajinasikan rumus-rumus yang ada dalam buku dengan menerapkan langsung pada berbagai alat peraga.

Sebelum menerapkan metode tersebut, ia mengaku otoriter dalam mengajar. Selain itu, semua harus kaku diterapkan berdasarkan buku pelajaran yang digunakan. Namun, jelang kenaikan kelas, murid mengecap Juli sebagai guru galak dan mereka merasa tidak nyaman selama belajar. "Target nilai matematika terpenuhi, disisi lain,  murid menganggap saya galak, mereka jadi tidak nyaman. Itu yang membuat saya berpikir untuk merubah cara mengajar siswa," katanya.

Bahkan, guru yang hanya lulusan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) tahun 1986 itu mengaku kerap memasukkan sepeda motornya ke dalam kelas sebagai media belajar siswa. Sepeda motor itu, ia jadikan contoh ketika Juli mengajarkan tentang lingkaran dan benda tabung. "Mereka praktik sendiri, mengukur sepeda motor saya, dan akhirnya menerapkan rumus matematika untuk menghitung," ucapnya.

Mengajar dengan cara seperti Juli bukan tanpa tantangan. Saat mengawali metode itu beberapa tahun silam, rekan sekerja melayangkan protes. Setiap kali usai mengajarkan matematika, ia meminta murid menempelkan hasil perhitungan berbagai rumus di tembok kelas. Selain itu, alat peraga juga dianggap bikin sumpek dan mengotori ruang kelas. Ia juga pernah dianggap sebagai guru 'edan' lantaran cara mengajar yang dinilai aneh.

Namun, setelah metodenya berhasil mencetak nilai bagus dan kenyamanan dalam belajar, ia justru didukung teman sekerjanya. Bahkan, sekolah meminjaminya satu kelas khusus untuk laboratorium matematika. "Kelas ini khusus matematika, jadi seperti laboratorium namun sederhana. Setiap pelajaran matematika untuk kelas sembilan, diajarkan di kelas khusus ini," paparnya.

Keberhasilan cara mengajar Juli juga membuatnya menjadi pembicara pada sejumlah seminar nasional bertema pendidikan di sejumlah tempat dan stasiun televisi. Ia tidak mempersoalkan dirinya tidak pernah lulus sebagai sarjana. Ia juga mengaku tidak masalah jika belum lolos uji sertifikasi. Juli merasa cukup dengan penghasilannya sebagai guru dan berwiraswasta. Sepulang mengajar di SMP 19 Purworejo, ia berjualan bakso keliling di lingkungan rumahnya di Desa Jogonegoro Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. "Lumayan, dapat tambahan penghasilan sedikitnya Rp 70 ribu setiap hari," ujarnya.

Dicap 'edan' ternyata tidak membuat Juli Eko Sarwono minder. Justru hal itu makin terlecut semangatnya untuk terus maju menjadi yang terbaik. Bahkan, karena kiprahnya, Juli mendapat penghargaan sebagai 'Good Practices' di bidang pendidikan oleh lembaga donatur asing Decentralized Basic Education 3 (DBE 3) - dan lembaga asing lainnya.

Kepala SMPN 19 Purworejo Daryanto SPd menambahkan, sekolah mendukung metode pembelajaran yang diterapkan Juli Eko Sarwono karena terbukti bisa mengangkat nilai siswa. Nilai rata-rata sudah naik dari 5,4 menjadi lebih dari 7,5 untuk mata pelajaran matematika. "Kami dukung penuh, selain kebijakan juga dengan membangun laboratorium khusus matematika," ungkapnya.

Sumber berita: krjogja.com dengan editan
Sumber foto: sukardi-tkjim.blogspot.com

Share
Labels:

Membuat Tempat CD dari Kardus atau Kotak Bekas


Kali ini saya berkunjung ke blog yang unik, griyapustakahijau.com. Dari alamatnya sudah terbayang dua kegiatan yang saya minati, pustaka (berkaitan dengan buku, minat baca, dll.) dan hijau (berhubungan dengan pelestarian lingkungan hidup). Dan benar saja setelah membaca postingannya saya tertarik. Langsung saja saya bagikan salah satu artikelnya, semoga bermanfaat.

ide kreatif dari griyapustakahijau.com

Di rumah kita, tentu ada banyak kardus atau kotak yang tidak terpakai lagi. Kardus atau kotak itu biasanya berasal dari barang-barang elektronik, sepatu, makanan atau minuman, yang umumnya kita buang atau kita berikan kepada pemungut barang bekas. Sebenarnya, sebelum langkah tersebut kita lakukan, kardus atau kotak bekas tersebut bisa kita manfaatkan lagi untuk perpustakaan yang kita kelola. Seperti yang kita tahu, selain buku, koleksi perpustakaan juga mencakup CD dan DVD. Nah, daripada kita membeli rak CD baru yang tentunya akan menambah pengeluaran kas perpustakaan, mengapa tidak kita buat sendiri? Ya, kita bisa membuatnya dari kardus atau kotak bekas tersebut. Bagaimana caranya? Ternyata sangat sederhana!

Bahan dan Alat

Kotak sepatu atau kardus ukuran kecil
Kertas kado (Rp. 1.000 sampai Rp. 2000)
Plastik sampul (jika ada)
Lem, Selotip, atau Double Tip
Gunting

Cara Membuat

Kardus atau kotak dibuang tutupnya sedemikian rupa hingga membentuk wadah terbuka
Balut kardus atau kotak tersebut dengan kertas kado serapi mungkin, lalu rekatkan dengan lem, selotip atau double tip di bagian dalam kotak
Jika ada sisa plastik sampul untuk buku, kardus atau kotak yang sudah dibalut kertas kado tadi bisa kita balutkan plastik. Rekatkan plastik dengan selotip serapi mungkin. Plastik akan menjaga kertas kado agar tidak mudah rusak
Tempelkan label di kotak tersebut jika dibutuhkan

Sangat sederhana, kan? Alat dan bahan bisa kita jumpai di rumah kita sendiri, kecuali jika belum memiliki kertas kado atau plastik sampul. Kalau dihitung-hitung, modal untuk membuat tempat CD ini tidak lebih dari Rp. 5.000. Jika kita bandingkan harga rak atau box CD di toko yang berkisar Rp. 15.000 sampai Rp. 35.000, maka kita sudah menghemat cukup banyak. Selisih uang tersebut bisa kita gunakan untuk keperluan lain di perpustakaan yang lebih prioritas, membeli buku misalnya.

Sebagai tambahan, sebaiknya kardus atau kotak bekas tersebut hanya digunakan sebagai wadah CD, DVD, kaset atau barang-barang non-kertas lainnya. Menyimpan buku di dalam kardus atau kotak akan berdampak kurang baik untuk kondisi buku tersebut. Sebagian kardus mengandung asam yang dapat membuat warna kertas pada buku menjadi kekuning-kuningan sehingga lama-kelamaan buku akan rusak.

Selamat mencoba!

sumber: griyapustakahijau.com

Share
Labels:

Pustaka Rumah Dunia

adalah rumah baca dan sanggar karya yang terletak di pelosok kampung, jauh dari kota. kami hadir sebagai bagian dari usaha mencerdaskan generasi penerus bangsa. tidak banyak yang bisa kami lakukan, tapi kami terus berusaha mencobanya. bukan untuk apa atau siapa, semata memberi manfaat bagi sesama

PRD on TWIT

Tinggalkan Jejakmu

Followers

Karya Pribadi

Karya Pribadi
Buku Pertama yang diterbitkan
Powered by Blogger.